Perang Bayu Perang Rakyat
Pada 18 Desember 1771, tanah Balambangan (sekarang wilayah Banyuwangi-Jember-Bondowoso dan Situbondo) menjadi saksi sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Bayu. Dalam peristiwa ini, rakyat Balambangan bangkit melawan penjajahan VOC Belanda dengan keberanian yang luar biasa.
Perang Bayu adalah peperangan rakyat Balambangan melawan VOC-Belanda di Balambangan tahun 1771-1772. Disebut perang rakyat karena kerajaan Balambangans endiri sudah runtuh pada 31 Desember 1767 dan tidak ada lagi raja de facto yang berkuasa sejak itu.
Tiga Babak Perang Bayu
Peru diketahui, Perang Bayu terjadi sebanyak tiga babak. Babak pertama meletus antara bulan Agustus-Desember 1771 di bawah pimpinan Mas Rempeg Jagapati. Puncaknya adalah peristiwa 18 Desember yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Banyuwangi.
Babak kedua terjadi antara bulan Pebruari-Juni 1772 di bawah pimpinan Mas Jagalara dan Sayu Wiwit. Jagalara adalah adik dan mantan wakil dari Mas Rempeg, sedangkan Sayu Wiwit adalah penasihat spiritual Mas Rempeg dalam Perang Bayu I.
Adapun babak ketiga atau yang terakhir terjadi antara bulan Juli-Oktober 1772 dan dipimpin oleh Ki Keboundha. Dia adalah anak angkat dan pengikut setia Pangeran Agung Wilis sekaligus guru dan penasihat militer dari Mas Rempeg.
Perang Bayu 1771 di Bulan Suci Ramadhan
Selama ini ketika kita membicarakan Perang Bayu tahun 1771 di Balambangan maka timeline yang paling tepat adalah di bulan desember, karena puncak perlawanan rakyat Balambangan itu dikenang sebagai HARJABA (Hari Jadi Banyuwangi) setiap tanggal 18 Desember.
Tahukah Kamu? Perang Bayu 1771 ternyata terjadi saat bulan Ramadhan
Ada yang menarik dari penelusuran Penulis bahwa tahun 1771 Masehi ternyata bertepatan dengan tahun 1185 Hijriyah. Dari situ kemudian Penulis melakukan perhitungan mundur dan menemukan fakta yang mencengangkan.
Selama ini jarang diketahui, jika tanggal 18 Desember 1771 tersebut dikonversi ke kalender Hijriyah bertepatan dengan 12 Ramadhan 1185 H. Jika ini benar, artinya, pertempuran dahsyat di Bayu itu terjadi di tengah bulan suci Ramadhan.
1 Ramadhan 1185 H tepat jatuh pada tanggal 7 Desember 1771 Masehi, sementara Idul Fitri 1 Syawal 1185 H bertepatan dengan tanggal 5 atau 6 Januari 1772. Tak heran jika Perang Bayu seolah terhenti sejenak di bulan Januari 1772 dan babak kedua peperangan baru dimulai pada Pebruari 1772 di bawah pimpinan Mas Jagalara dan Sayu Wiwit.
Perang Bayu bukan Perang Agama
Penulis sering menemukan argument menyesatkan yang dengan serampangan menyatakan bahwa Perang Bayu adalah perang antara Mataram-Islam yang didukung VOC-Belanda melawan Kerajaan Hindu Balambangan.
Faktanya kerajaan Mataram sudah runtuh sejak ibukota Plered direbut oleh Pangeran Trunajaya yang gagah berani pada bulan Juni 1677. Kerajaan Balambangan sendiri juga sudah runtuh di tangan VOC-Belanda sejak 31 Maret 1767. Jadi sangat tidak mungkin sebuah kerajaan yang sudah binasa tahun 1677 dapat terlibat dalam Perang Bayu tahun 1771.
Sebagai bukti bahwa Perang Bayu bukan perang atas nama agama, kita bisa lihat pendapat para ahli di bidang ini.
Sri Margana mencatat dalam Perebutan Hegemoni Blambangan: “Ini bukan karena alasan keagamaan… Rakyat Blambangan tidak memiliki persoalan khusus dalam mengadaptasikan diri dengan Islam maupun Hinduisme…”
C. Lekkerkerker mencatat dalam Indische Gids II: “Dalam Gerakan Pseudo Wilis (Mas Rempeg, Pen) itu, tidak ada terdapat semangat anti Islam, sebagian dari pengikut-pengikut Pseudo Wilis (Mas Rempeg, Pen) itu jelas beragama Islam dan pemimpin-pemimpinnya mengucapkan nama Allah.
Bahkan I Made Sudjana, sejarawan hindu asal Bali dalam bukunya Nagari Tawon Madu dengan jelas mneyebut Rempeg adalah seorang muslim. Dia juga mencatat bahwa: “Untuk menambah kepercayaan Wadya Alit (rakyat), Pangeran Pakis (Mas Rempeg, Pen) menyatakan bahwa Gusti Allah akan menganugerahkan Meriam.”
Penutup
Dengan demikian, Perang Bayu terjadi murni karena faktor politik kekuasaan saat VOC-Belanda (tanpa dibantu Mataram) ingin menguasai seluruh Jawa, bukan karena faktor agama. Yang terlibat adalah rakyat Jawa dan Madura yang kebetulan muslim dan melawan rakyat Jawa Balambangan yang heterogen dimana termasuk muslim juga ada di dalamnya.
Perang Bayu akhirnya dikenang sebagai salah satu perlawanan terbesar rakyat Balambangan terhadap penjajahan VOC-Belanda. Sebuah pengingat bahwa sejarah perjuangan di Nusantara sering lahir dari perpaduan iman, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air.
Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan yang dalam sejarah sering melahirkan keteguhan dan keberanian luar biasa.