LAMAJANG TIGANGJURU = BALAMBANGAN?

Berita mengenai Lamajang Tigangjuru bermula dari perjanjian Songenep (1292) antara Raden Wijaya dengan Arya Wiraraja. Dalam perjanjian itu Raden Wijaya akan memberikan tanah Lamajang dan Tigangjuru kepada Arya Wiraraja jika mereka berhasil mengalahkan Jayakatwang.

Dengan berbagai alasan. Arya Wiraraja sendiri baru mulai menempati wilayah pemberian itu tahun 1295. Tahun tersebut dianggap sebagai tahun berdirinya Lamajang Tigangjuru karena dalam Prasasti Penanggungan (1296) nama Arya Wiraraja sudah tidak dicantumkan lagi sebagaimana dalam Prasasti Kudadu (1294) yang mencantumkannya sebagai Rakryan Menteri Makapramuka-nya Majapahit.

Wilayah Lamajang Tigangjuru

Lamajang Tigangjuru adalah wilayah seluas Lumajang ditambah tiga Juru lainnya yang (selama ini diyakini) luasnya hingga ke Selat Bali. Namun mengenai apa saja nama ketiga Juru tersebut, masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan. Apalagi jika yang bukan sejarawan juga ikut membumbuinya. ūüėä

Pendapat Pertama menyebutkan bahwa ketiga Juru tersebut adalah; (1) Juru Sadeng (Puger di Jember), (2) Juru Ketha (meliputi Besuki-Situbondo-Bondowoso), dan (3) Juru Pajarakan (di Probolinggo).

Pendapat Kedua: (1) Juru Sadeng, (2) Juru Ketha, dan (3) Juru Songenep (Sumenep di Madura). Sedangkan pendapat Ketiga: (1) Juru Sadeng, (2) Juru Ketha, dan (3) Juru Balambangan.

Sepertinya nyaris tidak ada perdebatan mengenai Juru pertama dan kedua karena kelak pada tahun 1331 dua daerah itu melakukan perlawanan terhadap pemerintahan pusat sebagaimana Lamajang tahun 1316.

Mengenai Juru ketiga masih ada perdebatan. Apakah Juru ketiga itu Pajarakan, atau Songenep, atau Balambangan. Di sini kita akan membicarakan Balambangan saja.

Apakah Balambangan salah satu Juru di Tigangjuru?

Mengenai pendapat yang ketiga di atas, yang mengatakan bahwa Balambangan adalah termasuk salah satu Juru dari Lamajang Tigangjuru, hal ini menimbulkan dua pendapat.

Pertama, agaknya kurang dapat Jika Balambangan adalah salah satu Juru dari Lamajang Tigangjuru, karena dalam Prasasti Jayanagara I (1316?), daerah Malambangan (Balambangan) baru sebatas berupa desa-desa yang dipimpin oleh para Rama (bapak/kepala desa).

Ke-Rama-an atau desa adalah satuan pemerintah terkecil, sedangkan Juru lebih tinggi (bisa dianggap setingkat Kabupaten/Negara Bagian).

Kedua, bisa saja Blambangan memang salah satu Juru dalam Lamajang Tigangjuru-nya Arya Wiraraja, namun rakyat Balambangan justru memihak Majapahit ketika terjadi Perang Nambi (1316). Hal ini yang membuat Prabu Jayanagara dari Majapahit bangga kepada mereka dan menganugerahkan Sima sebagaimana dimaksud dalam Prasasti Jayanagara I.

Para Penguasa Lamajang Tigangjuru

Selanjutnya mengenai para raja yang pernah berkuasa di Lamajang Tigangjuru, anggapan umum selama ini hanya mengakui adanya dua orang raja yang masing-masing memerintah dari dua kota yang berbeda. Mereka adalah:

1. Arya Wiraraja (1294-1310) beribukota di Kutha Laja/Arnon

2. Arya Pu Nambi (1310-1316) beribukota di Pajarakan

Runtuhnya Lamajang Tigangjuru

Tahun 1316, Arya Pu Nambi terpaksa melawan Majapahit karena terkena fitnah. Setelah itu Lamajang dihancurkan dan kotanya, Pajarakan, dirusak. Nagarakretagama menyebutkan dalam Pupuh 48 bait kedua;

‚ÄúTahun Saka 1238/1316M, bulan madu, Baginda Jayanegara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan.‚ÄĚ

(Nagarakretagama)

Saat itu kiranya, Kota Laja juga dibakar. Sisa-sisa pejuang dari Lamajang itu kemudian lari ke Sadeng di pantai selatan (daerah Puger di Jember sekarang), dan sisa-sisa pejuang lainnya yang dari Pajarakan lari ke Ketha di pantai utara (daerah Besuki di Situbondo sekarang).

Dalam analisis Penulis, diperkirakan pelarian dari Ketha dan Sadeng inilah yang kemudian melanjutkan ke Malambangan dan dihadapi oleh penduduk Malambangan.

Kesetiaan Malambangan Pada Majapahit

Prasasti Jayanagara I menyebutkan secara tersirat kisah adanya sisa-sisa pelarian dari Lamajang yang menuju ke Ke-Rama-an (desa) Malambangan lalu dikalahkan oleh para Rama (atau Mantri Araraman?) di Malambangan itu.

Hal ini membuat sang Raja Jayanagara senang dan kemudian memberi anugerah sima kepada para rama (lebih dari satu Rama) di Malambangan sebagaimana dimaksud prasasti tersebut;

‚ÄúTampaklah jasa-jasa mereka pada usaha untuk kebahagiaan Sri Baginda Maharaja (Jayanagara). Hal itu menimbulkan rasa terimakasih yang tiada bandingannya dalam hati sanubari Sri Baginda Maharaja. Itulah yang menyebabkan maka Sri Baginda Maharaja menurunkan anugerah kepada masyarakat Malambangan itu jadi sebidang tanah perdikan sima. ‚Ķdiperbolehkan pula melakukan pemujaan ikan sakti‚Ķ Hal tadi itu berlaku juga bagi keturunan mereka. Tak diperkenankan pula melakukan perubahan oleh pegawai nayaka kepercayaan dan raja-raja yang akan datang, sejak kini sampai nanti untuk selama-lamanya. Daerah itu karena sudah dijadikan tanah perdikan sima, harus tetap dalam kebebasan‚Ķ‚ÄĚ

(Prasasti Jayanagara I)

Penutup

Dalam penulisan Sejarah Kerajaan Balambangan yang ada selama ini, para penulis terdahulu yang berkarya sebelum kami pada umumnya selalu menjadikan Arya Wiraraja dengan Lamajang Tigangjuru-nya itu sebagai asal-usul pertama Kerajaan Balambangan tanpa mampu memberikan bukti kaitan antara keduanya, selain hanya kesamaan wilayah belaka.

Sementara kami, sejak 2016 telah berusaha mengidentifikasi bahwa Lamajang Tigangjuru tidak sama dengan Balambangan. Apakah Malambangan/Balambangan ini salah satu Juru dari Lamajang Tigangjuru? Bisa jadi demikian, namun masih perlu kajian lebih mendalam lagi.

Saat masa eksistensi Lamajang Tigangjuru itu jangan tanya tentang Balambangan, karena Raja pertama Balambangan saja, menurut Babad Sembar adalah cucu Raja terakhir Majapahit terakhir. Artinya Lamajang Tigangjuru-nya sudah bubar tahun 1316, sementara Balambangan baru berdiri 162 tahun kemudian di tahun 1478 (pasca Majapahit runtuh).

Dengan demikian, apakah Lamajang Tigangjuru sama dengan Balambangan?

Bahan Bacaan:

  1. Pararaton
  2. Prasasti Penanggungan (1296)
  3. Prasasti Kudadu (1294)
  4. Prasasti Jayanagara I (1316)
  5. Nagarakretagama (1359)
  6. Winarsih, Babad Sembar
  7. Aji Ramawidi, Suluh Blambangan
  8. Aji Ramawidi, 1478, Runtuhnya Majapahit dan Berdirinya Balambangan
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like