BALAMBANGAN – PASURUAN; Lawan yang menjadi sekutu

Untung Surapati diangkat sebagai Bupati Pasuruan bergelar Wiranegara dan diutus oleh Sunan Mangkurat II untuk memperluas perbatasan Mataram ke timur dengan menaklukkan wilayah-wilayah Balambangan.

Oleh karena itu Kangjeng Suhunan Tawangalun [II] pernah menerima surat dari VOC-Belanda yang menawarkan Kerjasama guna menghadapi Surapati Bersama-sama. Sayangnya, Batavia harus kecewa pada Balambangan.

Pangeran Mas Purba diasuh Surapati

Begitu mudah Surapati merebut wilayah-wilayah Balambangan Barat karena memanfaatkan momentum perang saudara pasca meninggalnya Kangjeng Suhunan Tawangalun (1691) dan perang saudara di Balambangan (1691-1692).

Dalam perang saudara itu, Pangeran Prabu Sasranegara (pengganti Tawangalun) terbunuh. Dikudeta oleh adik-adiknya. Namun keluarganya berhasil selamat dan bersembunyi di Puger. Kemudian meminta perlindungan Surapati di Pasuruan.

Mas Purba, putra Pangeran Prabu Sasranegara yang baru berumur 8 tahun kemudian tinggal di Pasuruan dalam perlindungan Surapati.

Pangeran Macanagara vs Pangeran Macanapura

Pangeran Arya Macanagara kemudian naik tahta. Namun kembali terjadi kudeta tahun 1692 dan kemudian adiknya yang lain, Pangeran Pati Mas Macanpura, berhasil menjadi raja.

Kemudian raja baru itu mengetahui bahwa keponakannya masih hidup di Pasuruan. Maka digempurlah Pasuruan. Hal itu tentu membuat Balambangan harus kembali berhadap-hadapan dengan Pasuruan (Surapati). Perang meletus di perbatasan, di daerah Pacabean. Balambangan kalah.

Setelah 6 tahun di Pasuruan, saat itu umur Pangeran Mas Purba telah 15 tahunan. Dia diambil menantu oleh Surapati, dinikahkan dengan Mas Ayu Gadhing, putri Surapati.

Pangeran Mas Purba vs Pangeran Pati Mas Macanapura

Kemudian, pangeran muda ini membawa pasukan gabungan dari Balambangan Barat (Puger), Pasuruan, dan Buleleng menggempur Macanputih untuk merebut kembali hak tahta ayahnya, Pangeran Prabu Sasranegara.

Dia berhasil. Maka Pangeran Mas Purba menjadi raja yang baru bergelar Prabu Agung Danureja (1697-1736).

Sang raja baru ini tidak menempati istana Macanputih yang dianggap telah Leteh, maka dia membangun Puri sementara di Wijenan, sekarang menjadi Dusun Wijenan di Desa Singolatren Kecamatan Singojuruh Banyuwangi.

Puri Wijenan hanya istana sementara karena hanya ditempati sambil menunggu pembangunan Istana baru di Alas Kebhrukan.

Pada tahun 1705, pembangunan istana baru itu selesai dan ibukota Balambangan pindah ke alas Kebhrukan yang diberi nama Kutha Ardja Balambangan, kini Desa Blambangan di Kecamatan Muncar.

Kematian Surapati

Saat itu, Balambangan dipimpin oleh Pangeran Prabu Danureja (1697-1736). Wilayah Balambangan hanya tinggal apa yang kita kenal sebagai Kabupaten Banyuwangi saat ini ditambah Kecamatan Asembagus (saat ini masuk Situbondo). Selebihnya telah menjadi Zonder Soerapati (di bawah kontrol Soerapati) karena direbut selama tahun 1690-1697an.

Di Bangil setahun kemudian, tepatnya pada 5 Desember 1706, mertuanya, Surapati, gugur dalam sebuah peperangan melawan koalisi VOC-Belanda dan Mataram.

Sejak itu sebagian daerah Balambangan Barat dikelola oleh keturunannya seperti Raden Pengantin (Surapati II) dan Raden Malayakusuma di Malang serta Raden Kartanegara di Lumajang.

Nasib Keturunan Surapati

Para keturunan Surapati itu memimpin pengikut Surapati. Mereka melanjutkan perjuangan melawan VOC-Belanda.

Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka. Sebagian lagi bergabung dalam perjuangan Pangeran Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717 sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana.

Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 pengikut Surapati masih terus melakukan gerilya.

Mereka sempat bersatu dengan Kapiten Sepanjang dalam Geger Pacina yang meluas sampai ke Jawa Timur tahun 1741.

Terakhir, mereka bersatu dengan perjuangan Pangeran Prabujaka dan Pangeran Agung Wilis di Malang dan Balambangan tahun 1767-1768. Kini, mantan musuh itu telah menjadi sekutu abadi. Lho, kok dengan Pangeran Agung Wilis?

Referensi:

Aji Ramawidi, Babad Raja Balambangan (2020); Suluh Blambangan 2 (2017); Dari Balambangan Menjadi Banyuwangi (2022).

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Selanjutnya

Gelgel Menguasai Balambangan?

DAFTAR ISI Hide PEMBUKASOSOK DALEM WATU RENGGONGVERSI BABAD DALEMVERSI SUMA ORIENTALVERSI J.J. MEINSMAPENUTUPSUMBER PEMBUKA Sebuah cerita rakyat (tutur)…