Kapan Majapahit Runtuh?

Kapan Majapahit Runtuh
Kapan Majapahit Runtuh

Ada beberapa perbedaan tafsir tentang masa akhir Majapahit dan keruntuhannya. Diantaranya adalah…

1. Tafsir Lama yang pertama,

Tafsir ini muncul karena Kalimat penutupan dalam Serat Pararaton terkesan ambigu dan tidak jelas siapa yang pergi dari istana pada tahun 1390S/1468M, apakah Bhre Pandansalas Dyah Suraprabhawa ataukah anak-anak Sang Sinagara (Sang Muggwing Jinggan cs.). Tidak jelas pula siapa yang meninggal dalam istana pada tahun 1400S/1478M, apakah Bhre Kertabhumi, ataukah raja Bhre Pandansalas Dyah Suraprabhawa.

Sementara dalam Serat Kandha disebutkan bahwa, Brawijaya adalah raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Raden Patah pada tahun Sirna ilang KERTA-ning BUMI, atau 1400 Saka. Atas dasar berita tersebut, tokoh Brawijaya pun dianggap identik dengan Bhre Kertabhumi. Apalagi muncul nama Prabu Brawijaya Kertabhumi dalam Purwaka Caruban Nagari.

Majapahit runtuh tahun 1478 saat raja Brawijaya (atau biasanya disebut Brawijaya V) ditaklukkan oleh putranya sendiri, Raden Patah dari Demak. Berita ini didapat dari Serat Kandha dan beberapa sumber lain. Yang mendukung pendapat ini diantaranya adalah;

  • a. Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java, dia menyebut Majapahit runtuh pada tahun saka sirna ilang kertaning bhumi (1400S) dan pelaku penyerangan ke Majapahit adalah Raden Patah dari Demak.
  • b. Novelis dan Budayawan, Pramudya Ananta Toer dalam Arus Balik, juga berpendapat bahwa Majapahit runtuh tahun 1478M. Bahkan dia menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit merupakan suatu revolusi politik di Nusantara.
  • c. Sejarawan Katholik Benedictus Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Judul buku yang cukup provokatif bukan?

Muljana mendukung penuh teori ini dengan berpedoman pada karya Parlindungan; Tuanku Rao, yang mengutip resume laporan Residen Poortman dari Semarang tentang naskah kronik Cina dari Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Kelenteng Talang Cirebon. Padahal menurut Sejarawan NU, Agus Sunyoto, tidak ada satupun residen Semarang yang bernama Poortman. Jika Residen Poortman saja tidak ada, lantas sebenarnya sumber apa yang dipakai oleh Parlindungan dan kemudian dikutip oleh Benedictus Slamet Muljana itu?

Tafsir Lama yang pertama ini kemudian dibumbui oleh oknum era Kolonial untuk mengadudomba Islam dengan Hindu-Buddha melalui Serat Babad Kadhiri, Dharmogandul, Gatholoco, dan sejenisnya. Hal ini perlu mereka lakukan karena saat bangsa Jawa bersatu melawan kolonial dalam perang Diponegoro itu, pihak Belanda kuwalahan di sana-sini. Belajar dari pengalaman tersebut maka bangsa Jawa harus dipecah-belah. Diantaranya dengan membangkitkan menciptakan dongeng isapan jempol berisi nostalgia akan Majapahit yg dihancurkan Demak, Hindu-Buddha yang dikalahkan Islam.

2. Tafsir lama yang kedua;

Tafsir lama yang ini juga menganggap Majapahit runtuh tahun 1478. Bedanya, yg dikudeta adalah raja Bhre Kertabhumi, dikudeta oleh Dyah Ranawijaya, raja Kediri. Intinya, Raja Bhre Kertabhumi (Trowulan) dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Kediri). Di sini disebutkan konflik antara Bhre Kertabhumi yang disebut sebagai ayah Raden Patah dengan Dyah Suraprabhawa yang disebut sebagai ayah Dyah Ranawijaya.

Awalnya, Dyah Suraprabhawa (ayah Ranawijaya) dikudeta oleh Bhre Kertabhumi (ayah R. Patah) tahun 1468, kemudian Dyah Suraprabhawa meninggalkan istana Trowulan ke Daha dan tetap menjadi raja hingga mati di sana. Jadi menurut pendapat ini Dyah Suraprabhawa meninggalkan istana setelah bertahta dua tahun. Sepuluh tahun kemudian putranya yang bernama Dyah Ranawijaya membalas dengan mengkudeta Bhre Kertabhumi yang berkuasa di Trowulan tahun 1478. Hal ini kemudian menimbulkan dendam pada diri Raden Patah (yang disebut sebagai putra Bhre Kertabhumi) sehingga, Raden Patah membalas dengan menaklukkan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya raja Majapahit di Kediri.

Pendapat ini didukung oleh beberapa sejarawan diantaranya;

-Hasan Djafar dalam bukunya, Masa Akhir Majapahit. Menurutnya, tahun tersebut lebih masuk akal jika ditafsirkan sebagai peristiwa perebutan takhta Majapahit, dan yang melakukan kudeta adalah Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, sementara yang dikudeta adalah Bhre Kertabhumi.

3. Tafsir Baru yang pertama;

Tafsir ini dipelopori oleh Sejarawati Nia Kurnia S.I. setelah mengkaji Negarakertagama, Serat Pararton, serta Prasasti Pethak dan Jiyu. Dia berpendapat bahwa Majapahit runtuh tahun 1478 saat Raja Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa dikudeta oleh keempat keponakannya; Sang Muggwing Jinggan/Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamwatan, dan Bhre Kertabhumi.

Tafsir ini jauh lebih kuat karena sumbernya jelas dari Pararton yang dikombinasikan dengan Prasasti Jiyu dan Prasasti Pethak. Tidak seperti tafsir lama dimana Pararton hanya dikombinasikan dengan karya Sastra Jawa Baru seperti Serat Kandha dan Babad Tanah Jawi.

4. Tafsir Baru yang kedua;

Tafsir baru yang pertama di atas, mengilhami Sejarawan muda lainnya, Siwi Sang, dalam bukunya Girindra, Para Raja Tumapel Majapahit. Hanya saja dia tidak sepakat jika Majapahit disebut runtuh tahun 1478 karena Girindrawardhana dalam prasastinya tahun 1486 masih mengklaim gelar sebagai Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri yang menunjukkan bahwa dia masih menjadi penguasa Majapahit sehingga dengan kata lain, Siwi Sang berpendapat bahwa Majapahit masih ada pada tahun 1486 itu, tidak runtuh tahun 1478.

Menurut Siwi Sang, Majapahit runtuh tahun 1527 (Babad Sengkala) saat raja Brawijaya (yang menurutnya adalah Dyah Ranawijaya) ditaklukkan oleh Sultan Trenggana (putra Raden Patah) Demak. Bukan oleh Raden Patah, karena tahun 1527 itu, Raden Patah sudah lama wafat.

Jadi, walaupun dengan berbagai sudut pandang dan alasan yang berbeda, tokoh-tokoh seperti Raffles, Nia Kurnia Sholihat Irfan, Hasan Djafar, Benedictus Slamet Muljana, sebenarnya percaya bahwa Majapahit memang runtuh tahun 1400 S/1478 M.

5. Beberapa Tafsir Tak Populer

  • a- P.J. Veth, seorang profesor bidang geografi dan etnologi dari Belanda dalam Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch (1875-1882), berpendapat bahwa Majapahit baru runtuh sesudah 1410 S/1488 M.
  • b- G.P. Rouffaer dalam Wanneer is Madjapahit Gevallen? berpendapat bahwa kerajaan itu tumbang antara 1516-1521, yaitu sekitar 1518.
  • c- W.F. Stutterheim, arkeolog Belanda, menduga Majapahit berakhir antara 1514-1528 M, yaitu sekitar tahun 1520 M.
  • d- N.J Krom, sejarawan Belanda, berpendapat bahwa Majapahit masih berdiri sampai 1521 M. Bahkan jika dilihat adanya temuan Prasasti Pabanolan (1463 S/1541 M), sebuah prasasti tembaga dari Malang, Krom berpendapat Majapahit masih ada pada tahun 1541 M.
  • e- Muhammad Yamin, Sejarawan Nasional Indonesia angkatan pertama, juga mengemukakan pendapat soal masalah akhir Majapahit. Menurutnya, Majapahit runtuh antara 1522-1528 M, yaitu sekira 1525 M. Pendapatnya berdasarkan keterangan penjelajah Italia, Pigaffeta, yang menyebut masih adanya Majapahit (Magepaher) pada tahun 1522. Selain itu, pendapat Yamin juga didasarkan pada keterangan Joao de Barros, sejarawan Portugis, yang menyebut daerah Panarukan mengirim duta ke Malaka pada 1528.
  • f- Ada satu tokoh yang pendapatnya berbeda dari yang lain. Dia adalah indolog, etnolog, dan sejarawan Belanda, B.J.O Schrieke. Dia mengemukakan bahwa Majapahit runtuh sepuluh tahun lebih awal dari 1400 S/1478, yakni pada tahun 1468 M. Berarti saat peristiwa Sah Saking Kadhaton…

Bahan Bacaan untuk tulisan ini mengutip dari karya-karya:

  1. Purwanto, Raja-raja Jawa versi fantasi dan History
  2. Siwi Sang, Girindra Pararaja Tumapel Majapahit
  3. Nia Kurnia, Pararaton Revisited
  4. Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit
  5. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam

Foto: Peta Tome Pires dalam buku Suma Oriental

0 Shares:
4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like