BANYUWANGI; Legenda dan Sejarahnya

By. Aji Ramawidi

Setiap Desember, Kabupaten Banyuwangi memperingati harijadinya yang dikenal sebagai HARJABA (Hari Jadi Banyuwangi).

Pada tahun 2021 ini, Kabupaten terluas di Jawa Timur ini telah mencapai usianya yang ke-seperempat millennium alias dua setengah abad alias 250 tahun.

Banyuwangi dalam Legenda Sritanjung

Asal-usul Banyuwangi sebagai legenda disebutkan dalam Lontar Sri Tanjung yang ditulis tahun 1314/1315 H atau 1897/1898 M di Dusun Lugonto, Desa dan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Namun menurut Suhalik kisah Sri Tanjung ditulis tiga ratus tahun sebelum itu yakni pada 1558. Mungkin yang dimaksud oleh Suhalik bukan Lontar Sri Tanjung seperti yang ada pada Penulis, melainkan naskah yang lebih tua, Kidung Sri Tanjung, namun tidak jelas sejak kapan naskah itu ada.

Yang jelas, dalam Lontar Sri Tanjung tidak disebutkan kata Banyuwangi dengan tegas, karena memang sepertinya memang bukan kisah asal-usul Banyuwangi-lah yang menjadi fokus dari penulisannya.

Dalam hal ini, Penulis sepakat dengan Aekanu Hariyono bahwa kisah Sri Tanjung pada dasarnya adalah cerita percintaan yang mengandung pula pesan ajaran moral dan bukan untuk menceritakan Asal-usul Banyuwangi-nya.

Lagi pula, cerita mengenai kisah Sri Tanjung sudah dikenal oleh masyarakat Jawa jauh sebelum itu. Kisah ini sudah terabadikan di Candi Palah/Penataran jauh sebelum Kerajaan Majapahit ada.

Kemudian dilestarikan pula pada era Majapahit dalam salah satu relief di Gapura Bajangratu Trowulan. Juga di Candi Jabung Probolinggo dan Candi Surowono Kediri. Semua relief candi itu sudah ada sebelum Lontar Sri Tanjung (1897/1898 M) ada.

Banyuwangi Sebagai Benteng VOC

Adapaun Kota Banyuwangi yang saat ini menjadi Ibukota Kabupaten Banyuwangi ini, pada awalnya adalah sebuah lokasi bagi Benteng VOC-Belanda yang baru, Fort Banjoewangie. Kota ini mulai dirintis pada bulan Agustus 1774 atas usulan Residen Schophoff.

“Merespon usulan Gezaghebber Luzac tentang politik dan pemerintahan Blambangan, Pemarintah Tinggi di Batavia menyetujui rencana membangun dua benteng Belanda untuk memindahkan benteng Belanda sebelum-nya yang terletak di Ulu Pangpang ke daerah yang lebih sehat.

“Dalam hal ini Residen Schophoff mengusul-kan dua lokasi: Banyuwangi, yang terletak beberapa mil di utara Ulu Pangpang, dan Tanjung Pakem yang terletak di pesisir timur Blambangan.”

(Sri Margana)

Banyuwangi Sebagai Ibu Kota

Setelah pembangunan Fort Banjoewangi selesai, relokasi Benteng VOC-Belanda dari Ulu Pangpang dilaksanakan. Saat itu Gezaghebber Pieter Luzac juga memerintahkan kepada Bupati Tumenggung Wiraguna (Mas Alit) untuk memindah-kan Dalem Kabupaten ke tempat lain.

Dalam hal ini, Residen Shophoff memberinya tiga pilihan untuk pindah dari Benculuk (ibukota lama) ke salah satu dari tiga tempat ini; Kota Lateng, Ulupampang atau di daerah Pakis Siram.

Namun Gezaghebber Luzac tidak setuju dengan tiga usulan itu karena dianggap terlalu jauh dari benteng VOC-Belanda yang baru di Banyuwangi sehingga akan sulit utnuk diawasi. Akhirnya sang Bupati memilih di sekitar Fort Banjoewangi.

“Pada 20 Nopember 1774, sore hari, Residen Schophoff, Bupati Wiraguna, dan seluruh pejabat Belanda pribumi meninggalkan Ulu Pangpang dan secara resmi bertempat tinggal di benteng dan rumah baru di Banyuwangi.

“Dengan demikian, ibukota baru Banyuwangi secara resmi ditinggali dan mulai menjalankan fungsinya pada 21 Nopember 1774.”

(Sri Margana)

Mas Alit Berkantor di Banyuwangi

Kota baru ini adalah sebuah kota terbuka (tanpa tembok keliling), tanpa penduduk, dan berada di tengah hutan lebat (Tirtagandha).

Daerah ini terletak di tepi sungai (Kali Buntu). Penduduk Kabupaten Banyuwangi saat itu sekitar 2.500 orang dimana 1.100 orang diantaranya adalah pendatang.

Tumenggung Wiraguna dan keluarganya boyongan dari Benculuk ke Banyuwangi. Mereka berangkat dari Pelabuhan Ulu Pangpang dan berlabuh di Boom.

Tumenggung Wiraguna adalah Bupati Balambangan ke-V (terakhir) dan sekaligus Bupati Banyuwangi pertama.
21 Nopember 1774, pos induk VOC-Belanda resmi dipindahkan dari Lopangpang ke Banyuwangi.

Bahan Bacaan:

Perebutan Hegemoni Blambangan, Lingkar Waktu, Ini Banyuwangi Sri Tanjung Hidup Kembali, A Short History of Blambangan, Sejarah Kerajaan Blambangan, Opkomst, dll.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Selanjutnya

Asal Usul Nama Jaka Tingkir

DAFTAR ISI Hide Anak-Anak Adipati AndayaningratMenolak Sowan ke DemakKelahiran Mas KarebetKedatangan Sunan KudusDari Pengging ke PajangNasihat Sunan KalijagaMengabdi…
Selanjutnya

Prasasti Palemaran

Piagam/Prasasti Palemaran (Ngadoman) Aksara Kawi, bahasa Jawa kuno tertanggal 1371 Saka (1449 M) ditemukan di lereng Gunung Merbabu/Damalung.…