Penyatuan Kerajaan Balambangan-Kedawung di Sembara (5/6)

Artikel karya M. Dwi Cahyono ini memiliki judul asli “Ungkapan Makna Toponimi “Semboro”, Tinggalan Arkeologis, dan Babad Sembar Bagi Kesejarahan Balambangan.” dan ditulis untuk diseminarkan di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember pada hari Minggu, 9 Desember 2018 dalam acara seminar yang berjudul : “Sejarah Benteng Majapahit”.

Untuk kepentingan dimuat pada ajisangkala.id, editor hanya memperbaiki beberapa typo yang ada kemudian membaginya dalam 6 (enam) bagian untuk 6 kali penerbitan, yaitu:

  1. (1/6) Sejarah Asal-usul Nama Semboro
  2. (2/6) Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres
  3. (3/6) Kandungan Data Historis dalam “Babad Sembar”
  4. (4/6) Pemerintahan Mas Sembar hingga Menak Lampor
  5. (5/6) Penyatuan Kerajaan Balambangan-Kedawung di Sembara
  6. (6/6) Kemungkinan Asal-Usul Nama “Jember”

Pengantar

Menak Lampor semula berkuasa di Panarukan dan terhitung sejak tahun 1531 mengambil alih kekuasaan pada pemerintan pusat di Lamajang.

Pemimpin pemerintahan vasal Balambangan di Panarukan digantikan oleh sanak keluarga Balambangan yang lain hingga akhirnya dikuasai oleh tokoh yang dalam tulisan C. Leckerkerker –dikutip oleh H.J. de Graff (1989) – disebut dengan “Cariaen’.

Sebutan ini adalah nama jabatan yang disandang olehnya, yang dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan adalah “Rakryan” atau bisa disingkat dengan “Kryan” atau “Kiyen” dalam translit Cina.

Rakryan adalah penguasa di tingkat warak (watek). Menurut Winarsih (1995:312) tokoh ini adalah “Mas Kriyan” yang berkuasa di Kedawung. Sayang sekali belum dapat dipastikan bilamana mula berkuasanya.

Lokasi Kedawung

Lokasi kedaton Kedawung, yang toponimi lokalnya adalah dengan “Kuta Dawung”, hanya berjarak sekitar 1,5 Km sebelah timur-laut Situs Beteng, yang merupakan Kedaton Balambangan di Sembara yang didirikan oleh Mas Sembar.

Pada masa lalu, Kuta Dawung tentu berada di dalam wilayah Kota Sembara, yang berarti sedaerah dengan lokasi kedaton yang didirikan oleh Mas Sembar pada sekitar tahun 1480-1490an.

Besar kemungkinan Mas Kriyan adalah anggota keluarga luas Balambangan, yang berketurunan jauh dengan Mas Sembar, yakni generasi ke-4 (cicit) dari Mas Sembar. Yang patut untuk dicermati, keduanya sama-sama memakai honorifix prefix “Mas” dan kedua kedaton beda masa itu (Situs Beteng dan Situs Kuta Dawung) sama-sama berada di Sembara Kuna.

Berkat hubungan baik antara Mas Kriyan dengan penguasa Kerajaan Gegel di Bali, maka Kerajaan Gelgel seolah menjadi “pelindung” terhadap Mas Kriyan.

Matahari Kembar di Balambangan

Kerajaan Kedawung yang semula hanya vasal Balambangan di Sembara pada bagian selatan DTK kemudian berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Panarukan di Pantura DTK setelah berhasil dan membunuh ibusuri, yakni janda dari Santaguna, penguasa Panarukan.

Kompeni Belanda pun acap dibikin repot oleh Mas Kriyan, lantaran penerapan “hak tawan karang” kepada orang-orang Belanda yang melaksanakan kegiatan dagang di Panarukan. Bahkan, pada puncaknya Mas Kriyan mendeklarasikan diri sebagai raja Balambangan.

Dengan demikian bagai ada “Dua Matahari” di Balambangan, yaitu Menak Lumpat pada pemerintahan pusat Balambangan di Lamajang dan Mas Kriyan yang medeklarasikan diri sebagai raja Balambangan di Kedawung.

Penyatuan Kerajaan Balambangan-Kedawung di Sembara

Oleh karena itu, Menak Lumpat segera bertindak ‘untuk apa yang dalam Babad Sembar diistilahi dengan “me-rebut payung (mengambil alih kekuasaan)” atas kerajaan Kedawung pada tahun 1633. Kriyan dapat diusir dari keratonnya. Lantas dirinya bersama dengan sanak keturunan dibinasakan.

Semenjak itu, Kedawung ditempatkan kembali di bawah panji Kerajaan Balambangan. Bahkan, kadatwan Balambangan yang semula berada di Lamajang direlokasikan ke Kedawung di daerah Sembara.

Pada tanggal 25 Mei 1633 raja Gelgei dari Bali “mentahbiskan”mengakui” Menak Lumpat sebagai raja untuk seluruh daerah kekuasaan Balambangan. Seolah “sejarah berulang”, Balambangan yang didirikan oleh Mas Sembar di Sambara pada sekitar tahun 1480-1490an, setelah hampir 1,5 abad lamanya “balik pulang” ke Sambara.

Posisi kadatwan Balambangan di Kuta Dawung berakhir pada tahun 1630an, setelah Kasultanan Mataram di bawah penerintahan Sultan Agung menyerang pusat pemerintahan Balambangan di Kuta Dawung, yang amat mungkin disertai dengan pengrusakkan yang serius.

Akibatnya kedaton Balambangan di Kuta Dawung tak layak lagi dijadikan ibukota pemerintahan, sehingga perlu direlokasikan ke daerah lain, yaitu ke Macan Putih di Banyuwangi. Relokasi ini nanti dilaksanakan oleh Pangeran Tawangalun.

(Bersambung ke Bagian 6 : Kemungkinan Asal-Usul Nama “Jember”)

0 Shares:
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Selanjutnya

Asal Usul Nama Jaka Tingkir

DAFTAR ISI Hide Anak-Anak Adipati AndayaningratMenolak Sowan ke DemakKelahiran Mas KarebetKedatangan Sunan KudusDari Pengging ke PajangNasihat Sunan KalijagaMengabdi…