Apakah Kerajaan Mataram Terlibat dalam Perang Bayu 1771?

Sejarah Balambangan dalam ingatan kolektif masyarakat di Banyuwangi, sering kita dapati cerita yang campur-baur mengenai “Peran Mataram di Balambangan.”.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu sempat beredar artikel yang menyebut bahwa Perang Bayu adalah perang antar agama dan antar suku; yakni antara Islam vs Hindu, dan antara Jawa vs Using.

Dalam artikel tersebut, konon ada peran Kesultanan Mataram dalam Perang Bayu. Benarkah demikian? Mari kita lacak!

Mataram Era Sultan Agung

Memang pada sebagian masyarakat, sering kita dapati ingatan kolektif bahwa ada peran Kerajaan Mataram dalam Perang Bayu (1771-1773). Hal semacam ini adalah salah satu kesalah-kaprahan akut ketika membahas Sejarah Perang Bayu, 1771-1773.

Mari kita baca Sejarah Mataram dari sumber otoritatif mereka sendiri, Babad Tanah Jawi. Perhatikan kronologi ini:

PERTAMA, Danang Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram tahun 1588. Kemudian cucunya yang bernama MAS Rangsang naik tahta tahun 1613. Kelak dia lebih dikenal sebagai Sultan Agung.

Tahun 1614, Mataram menaklukkan Malang dan Lumajang dari Blambangan. Kiranya hanya sebatas itu wilayah Balambangan yang berhasil direbut Mataram hingga akhir kekuasaan Sultan Agung.

Pada puncak kejayaannya, wilayah kekuasaan Mataram mencakup sebagian Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur sekarang, dengan pengecualian daerah Balambangan atau yang sekarang adalah wilayah Probolinggo hingga Banyuwangi).

Stoppelaar mengatakan bahwa “Jawa terdiri dari 14 negeri, yang 12 milik Sunan Mataram, yang dua (Banten dan Balambangan) adalah negeri Merdeka”. Demikian pula Van Goens mengatakan “Balambangan dipimpin seorang Raja (merdeka)”.

Maka wajar jika Biegman mengatakan bahwa “Seluruh Jawa menjunjung titah Panembahan Mataram, hanya raja Banten dan Raja Blambangan yang bebas (merdeka)”.

Mataram era Mangkurat I, II, dan Pakubhuwana I

KEDUA, Tahun 1645 Sultan Agung wafat dan anaknya yang bernama MAS Sayidin naik takhta bergelar Sunan Mangkurat I.

Lalu terjadi Pemberontakan Trunajaya yang didukung oleh seluruh raja Jawa (termasuk didukung oleh Prabu Tawangalun II) dan berhasil merebut ibukota Mataram (1674-1677).

Mangkurat I tewas lalu anaknya yang bernama MAS Rahmat naik takhta bergelar Mangkurat II (dengan bantuan VOC).

Tahun 1703 Mangkurat II wafat dan anaknya yang bernama MAS Sutikna menjadi Mangkurat III. Karena dia anti VOC maka setahun kemudian diturunkan dan Pangeran Puger (dengan bantuan VOC) ditahtakan sebagai Sunan Pakubhuwana I.

Mataram era Mangkurat III, IV, V, dan Pakubhuwana II

KETIGA, Pakubhuwana I digantikan anaknya yang bernama MAS Suryasaputra (Mangkurat IV), lalu digantikan anaknya yang bernama MAS Prabusuyasa (Pakubhuwana II).

Pada masa Pakubhuwana II ini ibukota Kartasura direbut oleh MAS Garendhi (Sunan Kuning) tahun 1742 yang mengaku bergelar Mangkurat V.

Setahun kemudian (dengan bantuan VOC) Sunan Kuning dikalahkan. Sebagai imbalan atas bantuan itu, Pakubhuwana II tahun 1473 menyerahkan Sedayu, Lamongan, Jipang, Tuban, Madura, dan seluruh wilayahnya di Jatim pada VOC.

Anehnya, seluruh Balambangan ikut diserahkan kepada VOC. Entah atas dasar hak apa dia melakukan itu, bukankah wilayah Balambangan yang dulu (tahun 1614) direbut Sultan Agung hanya daerah Malang dan Lumajang?

Perjanjian Giyanti dan Akhir Riwayat Mataram

KEEMPAT, Pada 11 Desember 1749, Pakubhuwana II malah MENYERAHKAN KEDAULATAN MATARAM KEPADA VOC.

Pangeran Mangkubumi yang telah meninggalkan istana melakukan perlawanan bersama MAS Said dan Pangeran Prabujaka.

Perang saudara ini sedikit reda setelah ditandatangani Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang isinya Membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu; Kasunanan Surakarta (untuk Pakubhuwana II) dan Kesultanan Yogyakarta untuk Pangeran Mangkubumi/Hamengkubuwana I.

Jelas sampai di sini. Bahwa Kerajaan Mataram sudah lenyap karena dibagi dua sejak 1755.

VOC Belanda vs EIC England

Sekarang kita tengok Sejarah Balambangan, sumbernya dari Daghregister VOC, Babad Tawangalun, Babad Bayu, dan Babad Notodiningratan.

Intinya, setelah tahun 1743 itu, VOC merasa memiliki negeri Balambangan berdasarkan perjanjian 1743 itu. Maka ketika tahun 1765 Inggris memulai kerjasama dagang dengan Balambangan, VOC khawatir.

VOC berusaha mencegah kerjasama Balambangan-Inggris itu dengan mengirim pasukan pendudukan ke Balambangan. Awalnya mereka meremehkan kekuatan Balambangan dan tidak menduga akan sampai lima kali ekspedisi.

Perang Kabakaba dan Perang Wilis

EKSPEDISI PERTAMA menjadi sebab terjadinya Perang Balambangan I (perang Kabakaba) tahun 1767. Perang ini terjadi di Ketapang, Lateng, Banyualit, dan Ulu Pangpang.

Saat itu Pasukan VOC terdiri dari, pasukan INFANTERI EROPA dari Semarang, PRAJURIT EROPA lainnya DARI SURAKARTA dan Surabaya. Ditambah sekutu pribumi dari; Bangkalan dan Surabaya.

EKSPEDISI KEDUA dalam rangka Perang Balambangan II (perang Wilis) tahun 1767-1768. Pasukan VOC terdiri PRAJURIT EROPA dari Banger, Bangkalan, Surabaya, Gresik, Sumenep, prajurit China dari Semarang, dan prajurit Melayu serta Bone dari Surabaya.

Perang Bayu I (Rempeg) 1771

EKSPEDISI KETIGA & KEEMPAT dalam rangka Perang Balambangan III/perang Rempeg Jagapati (yang biasa disebut Perang Bayu) tahun 1771.

Pasukan VOC terdiri PRAJURIT EROPA dari Batavia, Surabaya, Pasuruan, Yogyakarta, dan Surakarta, termasuk pasukan DRAGONDERS sebanyak 80 orang (dalam perang ini nanti yang 30 tewas).

Ditambah prajurit pribumi asal Surabaya, Bangil, dan veteran perang sebelumnya yg tinggal di Panarukan. Dan pasukan pribumi baru dari Lumajang, Bangkalan, Sumenep, Surabaya, dan Pamekasan.

Dalam Ekspedisi keempat ini sebenarnya Sultan Hamengkubhuwana I menawarkan sejumlah pasukan Jogjakarta untuk dipersenjatai oleh VOC, TAPI VOC MENOLAK karena melihat sepak terjang sang Sultan yang dulu pernah melawan VOC, sehingga VOC khawatir jika senjata bantuan itu justru akan digunakan untuk melawan VOC sendiri.

Perang Bayu II (Jagalara-Sayuwiwit) 1771-1772

EKSPEDISI KELIMA dalam rangka Perang Bayu II yang dipimpin Mas Jagalara-Sayuwiwit tahun 1771-1772.

Pasukan VOC terdiri dari: pasukan pribumi asal Sumenep, Bangkalan, Panarukan, Sampang, Surabaya, Pasuruan, Bangil, dan Pamekasan. Total 10.000 orang.

Mereka membantu pasukan ekspedisi III dan IV yang masih berperang. Dan hasilnya VOC Menang, Balambangan Kalah.

Kesimpulan

Dari dua kronologi di atas jelas terlihat bahwa KERAJAAN MATARAM runtuh 1755 sedangkan PERANG BAYU baru terjadi tahun 1771-1773. Maka mustahil Kerajaan Mataram terlibat dalam Perang Bayu.

Bahan Bacaan: Babad Tanah Jawi, Opkhoms, Babad Tawangalun, Babad Wilis, Babad Notodiningratan, dll.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Selanjutnya

Sejarah Desa Aliyan

DAFTAR ISI Hide Penduduk yang DipindahkanKedhawung AliyanKulikalian dalam ANRI No. 7Penduduk Aliyan dan Perang Bayu 1771Aliyan BerbenahKesimpulan Sebuah…