Babad Raja Balambangan 3

Poster Promo-BARA3

Sejarah Jawa versi Ujung Timurnya

Masa Akhir Kerajaan Majapahit telah dikaji oleh banyak penulis dalam maupun luar negeri, baik di bawah judul khusus maupun menjadi sub-judul pada karya tulis mereka.

Tulisan-tulisan tersebut sebagian besarnya kemudian dilanjutkan dengan Sejarah berdirinya Kerajaan Demak yang berlanjut pada Pajang dan Mataram. Memang demikianlah sejarah versi Jawa Tengahan.

Itulah alasan mengapa Penulis berusaha menggeser diskursus ini ke Ujung Timur Jawa. Bahwa betapa peristiwa yang memilukan di tahun 1478 itu bukan hanya menjadi titik tolak berdirinya Kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa tersebut, melainkan juga menjadi sebab lahirnya kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Keling (dan kemudian Daha), Surabaya, Giri Kadhaton, Cirebon, dan khususnya Balambangan.

Mereka menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka dan saling mengalahkan berebut klaim sebagai ahli-waris Majapahit.

Mas Sembar dan Bima Koncar

Sejak saat itu, Keling yang telah berhasil menjatuhkan Majapahit segera menjadi pusat kekuasaan politik yang baru namun tidak memperoleh dukungan dari daerah-daerah lain. Kadipaten-kadipaten pesisir kemudian membentuk satu persekutuan yang dipimpin oleh menantu Raja Majapahit terakhir.

Sementara daerah-daerah di Ujung Timur Jawa dipersatukan oleh Mas Sembar menjadi kerajaan baru bernama Balambangan.

Putra Mas Sembar yang bernama Bima Koncar semakin melebarkan kekuasaan warisan ayahnya itu dengan menggabungkan Tepasana dan Arenon di Lumajang sehingga negeri itu langsung berbatasan dengan Kerajaan Daha di Gunung Semeru-Brahma, juga berbatasan dengan Keniten (Canjtam), Pajarakan (Pajurucam), dan Panarukan (Panarucam) di sisi utara.

Pate Pimtor, Sang Penakluk Tapal Kuda

Bima Koncar tutup usia dalam sebuah insiden ketika sedang beranjangsana di Pantai. Pasukan musuh yang dipimpin Prabu Kala Gerjita menghancurkan kerajaannya sehingga keluarganya tercerai-berai.

Istri dan anaknya yang selamat meminta suaka ke Daha dan sang Patih Daha mengirimkan bala bantuan untuk membebaskan Balambangan kembali dari cengkeraman musuh, kemudian putra Bima Koncar yang bernama Pate Pimtor/Menak Pentor naik tahta atas bantuan pamannya itu sebagai raja ketiga Balambangan.

Buku ini berusaha mengajak pembaca untuk lebih mengenal sosok Pate Pimtor/Menak Pentor, raja ketiga Kerajaan Balambangan Merdeka yang membawa negeri ini semakin luas sehingga dia layak disebut Sang Penakluk Tapal Kuda.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like