Sejarah Asal-usul Nama Semboro (1/6)

Oleh: M. Dwi Cahyono

Artikel karya M. Dwi Cahyono ini memiliki judul asli “Ungkapan Makna Toponimi “Semboro”, Tinggalan Arkeologis, dan Babad Sembar Bagi Kesejarahan Balambangan.” dan ditulis untuk diseminarkan di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember pada hari Minggu, 9 Desember 2018 dalam acara seminar yang berjudul : “Sejarah Benteng Majapahit”.

Untuk kepentingan dimuat pada ajisangkala.id, editor hanya memperbaiki beberapa typo yang ada kemudian membaginya dalam 6 (enam) bagian untuk 6 kali penerbitan, yaitu:

  1. (1/6) Sejarah Asal-usul Nama Semboro
  2. (2/6) Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres
  3. (3/6) Kandungan Data Historis dalam “Babad Sembar”
  4. (4/6) Pemerintahan Mas Sembar hingga Menak Lampor
  5. (5/6) Penyatuan Kerajaan Balambangan-Kedawung di Sembara
  6. (6/6) Kemungkinan Asal-Usul Nama “Jember”

Pengantar

Semboro adalah nama salah satu Kecamatan di Kabupaten Jember, sebagai pemekaran dari Kecamatan Tanggul pada tahun 1961. Pusat kecamatan berada di Desa Semboro, yaitu satu diantara enam desa pada Kecamatan Semboro. Semenjak tanggal 2 Maret 1989 Desa Semboro dimekarkan menjadi (1) Desa Semboro, dan (2) Desa Sidomekar. Kedua desa ini dipisahkan Sungai Bondoyudo, yang mengalir panjang dari Lumajang menuju Jember.

Sidomekar kini terdiri tiga dusun (dukuh), yaitu : (a) Babadan, (b) Beteng, dan (c) Besuki. Demikianlah, bisa dibilang Sidomekar adalah Semoboro di masa lalu, sehingga sejarah Sidomekar tidak terpisahkan dengan kesejarahan Semboro.

Etimologi “Semboro” atau “Sambara”

Nama “Semboro” adalah istilah dalam Bahasa Jawa Baru yang diadaptasi dari bahasa Jawa yang lebih tua, yaitu Bahasa Jawa Tengahan dan Jawa Kuna. Vokal “o” dari kata “sembOrO” dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan ditulis dan diujar dengan “a” menjadi “sembArA”.

Adapun vokal “e” di dalam kata “sEmboro” adalah pengganti bagi vokal “a” dalam bahasa Jawa yang lebih tua. Dengan demikian, sangatlah mungkin sebutan “Semboro” sebagai nama desa dan kecamatan itu merupakan adaptasi dari istilah yang lebih tua, yakni “SAMBARA”. Kemungkinan lain adalah terdapat visargha “h” setelah huruf “b” menjadi “bh” (b visargha), sehingga dituliskan “SAMBHARA”.

Apabila benar kata “Semboro” berasal dari kata arkhais (lama) “sambara”, maka secara harafiah berarti : persiapan, keperluan, kebutuhan, perlengkapan, material (khususnya untuk upacara ritual).

Kata ini dapat dipadu atau ditempatkan mengikuti kata lain seperti perkataan “abhiseka sambhara, dana-sambhara, dwaya-sambhara, jnana-sambhara, puja-sambhara, punya-sambhara, sarwa-sambhara, yajna-sambhara, dsb.”. (Zoetmulder, 1995: 1000).

Istilah itu terbilang tua, paling tidak telah ada semenjak abad X-XI Masehi, karena terdapat dalam pustaka kuno Adiparwa (134), Udyogaparwa (125), Brahmandapurana (80), dan Sang Hyang Kamahayanikam (37).

Istilah “sambara” juga mengingatkan kita pada pendapat J.G. de Casparis bahwa nama “Borobudur” adalah paduan kata-kata “bhumi-sambhara-buddhara“.

Etimologi “Sambhara” dan “Sambar”

Apabila kata “Semboro” diasalkan dari kata arkhais “sambara”, maka bertemulah kita dengan kata “sambar” –ada kebiasaan melesapkan vokal “a” di penghujung kata dari kata “sambara” menjadi “sambar”, sebagaimana pada “Ganesya” menjadi “Ganesy”, juga “Arjuna” menjadi “Arjun”, begitu pula “Pu Bharada” menjadi “Pu Bharad”, dan sejenisnya.

Kata “sambar” yang disebut-sebut di dalam sejumlah prasasti, yang secara harafiah berarti: iuran wajib untuk pemujaan di suatu bangunan suci, yang disebut juga dengan kata “sambah” (Zoetmulder, 1995: 1000). Kata jadian “masambar” berarti: ikut serta di dalam pemujaan, adapun kata ulang “sambar-sambaran” menunjuk kepada: tempat pemujaan.

Kedua kata arkhais itu, baik “sambhara” ataupun “sambar” berkenaan dengan pemujaan. Tercakup di dalamnya beragam ritus upacara maupun tempat upacara. Dengan demikian, konteksnya adalah religis. Bisa jadi berkenaan dengan iuran wajib, persiapan, kebutuhan atau perlengkapan upacara religis.

Dalam kaitan itu, tentulah tak jauh darinya terdapat bangunan keagamaan, semisal candi. Kemungkin arti yang demikian pada paparan berikut akan dipergunakan untuk menelisik tinggalan arkeologi yang tersisa dan berhasil dijumpai di wilayah Semboro dan sekitarnya.

(Bersambung ke Bagian 2 : Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres)

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Selanjutnya

Sejarah Desa Gintangan

DAFTAR ISI Hide Antara Gintungan dan GelintinganBukti Kesejahteraan BalambanganSiapakah Sulung Agung?Kesimpulan Gintangan, nama sebuah desa di Kecamatan Blimbingsari,…