Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres (2/6)

Oleh : M. Dwi Cahyono

Artikel karya M. Dwi Cahyono ini memiliki judul asli “Ungkapan Makna Toponimi “Semboro”, Tinggalan Arkeologis, dan Babad Sembar Bagi Kesejarahan Balambangan.” dan ditulis untuk diseminarkan di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember pada hari Minggu, 9 Desember 2018 dalam acara seminar yang berjudul : “Sejarah Benteng Majapahit”.

Untuk kepentingan dimuat pada ajisangkala.id, editor hanya memperbaiki beberapa typo yang ada kemudian membaginya dalam 6 (enam) bagian untuk 6 kali penerbitan, yaitu:

  1. (1/6) Sejarah Asal-usul Nama Semboro
  2. (2/6) Jejak Arkeologis Situs Beteng dan Candi Deres
  3. (3/6) Kandungan Data Historis dalam “Babad Sembar”
  4. (4/6) Pemerintahan Mas Sembar hingga Menak Lampor
  5. (5/6) Penyatuan Kerajaan Balambangan-Kedawung di Sembara
  6. (6/6) Kemungkinan Asal-Usul Nama “Jember”

Pengantar

Paling tidak terdapat tiga areal di Semboro dan sekitarnya padamana dijumpai jejak arkeologis dan disebut dalam sumber data historis, yaitu :

  1. Situs Beteng di Desa Sidomekar Kecamatan Semboro,
  2. Situs Kutho Dawung di Dusun Kutho Dawung (kini masuk Dusun Karangrejo, sempat mengalami penggantian sebutan menjadi “Kuthoharjo”,) pada Desa Paleran Kecamatan Umbulsari,
  3. Situs Penggungan di Desa Klatakan Kecamatan Tanggul.

Meski berbeda desa dan kecamatan, namun desa-desa dimana situs-situs tersebut berada adalah desa-desa yang bertetangga, dengan radius kurang dari 2 Km.

Situs Kutho Dawung misanya, hanya terpisah oleh persawahan sejauh 1,5 s d. 2 km dengan Situs Beteng, yang berada di sebelah Barat Daya-nya.

Pada masa sekarang peninggalan akeologis lebih banyak didapati di Situs Beteng bila dibanding dua situs lainnya.

Toponim Benteng dalam KBBI

Toponimi “beteng” mengindikasikan adanya bangunan kokoh, yakni benteng, yang dibangun untuk melindungi suatu areal perrnukimam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara harafiah kata “benteng” antara lain berarti: (a) bangunan tempat berlindung atau bertahan (dari serangan musuh); (b) dinding (tembok) untuk menahan serangan; atau (c) sesuatu yang dipakai untuk memperkuat suatu kedudukan, dsb.

Kata dalam bahasa Sansketa yang berarti demikian adalah “pura” atau bisa juga “kutha”, yang berarti permukiman di dalam lingkungan benteng (Bahasa Jawa Baru “jron benteng“) atau serupa “castile” dalam bahasa Inggris.

Varian penyebutannya dalam bahasa Madura adalah “biting”, seperti tergambar pada sebutan “Situs Biting” pada Kutho Renon (konon dinamai “Arenon”) di Lumajang.

Situs Benteng di Desa Sidomekar

Informasi lokal menyatakan bahwa Situs Beteng mulai diketahui secara tidak sengaja pada rahun 1908 oleh Mat Salam di Desa Semboro (ketika itu Desa Semboro belum dimekarkan menjadi Semboro dan Sidomekar).

Sebenarnya, dalam sumber-sumber data asing keberadaan reruntuhan pemukiman berlindung benteng dan keraton Kedawung itu telah diberitakan pada awal abad XIX dan XX.

Sejak tersingkap keberadaannya di lapangan (site), tahun demi tahun didapati ragam tinggalan artefaktual, antara lain :

  1. tombak pada tahun 1956 oleh Sukadi,
  2. lumpang batu oleh Mat Salam tahun 1958,
  3. lumpang batu tahun 1991, 1992, dan 1994,
  4. batu akik tahun 1985,
  5. lumpang batu di Bumisoro tahun 1981,
  6. uang kepeng,
  7. pipisan batu tahun 1871,
  8. pipisan dan batu gandik tahun 1982,
  9. pipisan dan batu gandik tahun 1991,
  10. kapak Neolitik,
  11. fragmen gerabah dan keramik,
  12. struktur pagar dan gapura,
  13. sumur kuno, dsb.

Sebagian diantara temuan-temuan tersebut kini disimpan dalam “mini museum” di Situs Benteng Boto Mulyo.

Sayang sekali, sejauh ini riset yang dilakukan terhadap situs-situs itu masih pada tahap permulaan. Ekskavasi arkeologis belum pernah dilakukan pada areal yang terindikasi adanya tinggalan arkeoligis seluas kurang-lebih 2,5 ha.

Sebaliknya, perusakan demi perusakan terhadapnya beberapa kali terjadi, utamanya pada tahun 1968. Kalaupun kini masih tersisa, keberadaannya di bawah permukaan tanah. Yang ada di atas permukaan tanah telah banyak yang raib atau terserak di sejumlah tempat.

Sementara ingatan warga akan tinggalan itu di masa lalu tinggal samar-samar, bahkan nyaris tidak diketahui oleh generasi yang lahir di atas tuhun 1980-an.

Tanah Yang Subur di Desa Sidomekar

Potensi sumber air terbilang melimpah di Desa Sidomekar dan Semboro yang pemukaan tanahnya datar (flat) pada 25 m DPL di lembah sisi selatan Gunung Argoputo.

Selain dilintasi Kali Bondoyudo beserta sudetan-sudetannya yang dijadikan sarana irigasi, juga ditemukan kali-kali alamiah, seperti Kali Rowo di Desa Semboro lor, sumber air seperti “Umbul Thunthung” atau “Umbul Waru” di belakang Balai Desa Sidomekar, serta sumur- sumur kuno yang masih asli atau telah direnovasi.

Sumber air tanah yang dimanfaatkan untuk sumur gali pun terbilang tidak dalam. Oleh karena itu, kegiatan pertanian dan perkebunan dapat dilakukan secara intensifikasi.

Candi Sukoreno

Salah satu situs di sekitar Semboro padamana didapati jejak percandian adalah di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari, tepatnya di Dusun Krajan Lor, Jaraknya dengan Situs Beteng sekitar 7 Km.

Temuan yang didapati hingga tahun 1990-an berupa dua buah arca (Nandi dan sebuah fragmen arca batu, kini disimpan di tempat pengumpulan arca-arca di Jember), stuktur bata kono, lumpang batu, dsb.

Dengan adanya arca Nandi tersebut, jelaslah bahwa reruntuhan candi ini berlatar agama Hindu-Siwa. Jejak percandian juga didapati di Desa Gunungsari Kecamatan Umbulsari, sekitar 5 Km dari Situs Beteng.

Pada situs ini pernah terdapat beberapa arca, yang sayang telah raib. Selain itu terdapat bata-bata kuno sebagai reruntuhan candi.

Candi Deres

Reruntuhan candi yang terbilang besar adalah Candi Deres di Dusun Deres Desa Purwosari Kecamatan Gumukmas, sekitar 10 Km ke arah selataan dari Situs Beteng.

Di sekitar situs ini, di hamparan persawahan terdapat sejumlah gumuk (gundukan tanah) yang bervegetasi cukup lebat, yang diantaranya terdapat tinggalan arkeologis.

Sejauh telah diketemukan, Candi Deres yang berbahan bata kuna ini adalah tinggalan dalam bentuk candi yang terbesar di wilayah Jember.

Pada situs ini terdapat dua buah candi induk yang berjajar, yang di bagian muka dari masing-masing candi induk ditempatkan atau berhadapan dengannya platfera berbentuk empat persegi panjang, yang konon diatasnya berdiri tiga buah candi perwara.

Candi di bagian selatan, yang tepat dibagian tengah (garbhagreha)-nya ditumbuhi pohon beringin besar, terdapat sebuah fragmem arca Siwa Mahakala.

Jika candinya utuh, arca ini berada di dalam relung depan-kanan. Pada relung depan-kiri semula ditempatkan arca Siwa Nandiswara. Arca ini bersama arca-arca lain seperti arca Nandi, Durga, dan fragmen arca yang diprakirakan Agastya kini disimpan di gedung penyelamatan arca dari wilayah Jember.

Selain itu, pada foto dukumen yang dibuat oleh Oudhkungige Dienst (OD, Jawatan Purbakala masa Hindia- Belalnda) pada awal abad XX terlihat adanya Yoni yang cukup besar.

Penemuan Candi Deres

Tergambar jelas bahwa Candi Deres yang diketemukan pada awal tahun 1900-an berlatar agama Hindu- Siwa. Konon pada garbhagreha diempatkan Lingga-Yoni.

Adapun arca Durga Mahisasumardhini ditempatkan di relung candi sisi utara, Arca Agastya di relung sisi selatan.

Arca Ganesya yang masih belum ditemukan mestinya berada di relung belakang (barat). Jelaslah bahwa keagamaan Candi Deres adalah Hindu-Siwa.

Ada kemungkinan, dahulu pada garbhagreha candi induk bagian utara ditempatkan arca Dewi Parwati (Uma), yakni sakti (istri) Dewa Siwa. Prakiraan demikian serupa dengan yang terdapat di Candi Bocok di Kasembon Malang pada lereng barat Gunung Kampud (Kelud).

Candi Deres menghadap ke timur (arah Gunung Raung) dan berkiblat (berorientasi) ke arah gunung suci Mahameru (Semeru) jauh di sebelah baratnya.

Temuan Lainnya di sekitar Semboro

Selain itu ada berita bahwa di Situs Beteng pernah terdapat arca Siwa (belum jelas akurasinya), yang pada tahun 1968 dibuang ke Sungai Menampu.

Ada pula kabar bahwa di areal PG. Semboro juga pernah diketemukan arca batu. Berita ini kian mempetkuat bahwa di Semboro dan sekitarnya konon pernah terdapat tempat-tempat peribadatan (candi) dari Masa Hindu-Buddha, yang utamanya berlatar agama Hindu-Saiwa.

Apabila istilah “sambhara” dan “sambar” yang sangat dekat dengan istilah “Semboro” diartikan sebagai perlengkapan, keperluan, kebutuhan, penyiapan, material ataupun iuran wajib (danapunia) untuk keperluan penyelenggaraan upacara di bangunan suci.

Maka boleh jadi pada candi-candi itulah –utamanya Candi Deres– derma warga di Semboro masa lalu dikontribusikan.

(Bersambung ke Bagian 3 : Kandungan Data Historis dalam “Babad Sembar”)

0 Shares:
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like