Sekilas C. Lekkerkerker
C. Lekkerkerker atau Cornelis Lekkerkerker (lahir tahun 1869), adalah seorang arsiparis dan penulis Belanda yang aktif pada awal abad ke-20. Ia dikenal karena kontribusinya dalam bidang dokumentasi, sejarah, dan kebudayaan di Hindia Belanda.
Dia bekerja sebagai seorang Arsiparis di Bali-Instituut, Amsterdam, sebuah lembaga yang didirikan untuk mempelajari budaya dan sejarah Bali serta wilayah sekitarnya. Disana dia menggeluti bidang sejarah, etnografi, arkeologi, dan dokumentasi budaya Hindia Belanda.
Lekkerkerker memainkan peran penting dalam dokumentasi dan studi tentang sejarah serta budaya di wilayah Hindia Belanda. Karyanya memberikan wawasan berharga tentang Bali, Lombok, dan Balambangan pada masa kolonial.
Karya C. Lekkerkerker
Di antara karya-karya pentingnya adalah: “De geschiedenis der Christelijke zending onder Baliërs” (1919), yang mengulas sejarah misi Kristen di Bali, dan “De Baliërs van Batavia” (1918), yang membahas komunitas Bali di Batavia (sekarang Jakarta).
Selain itu juga “Bali en Lombok: overzicht der litteratuur omtrent deze eilanden tot einde 1919” (1920), yang merupakan bibliografi komprehensif mengenai literatur tentang Bali dan Lombok hingga tahun 1919. Karya ini mencerminkan upaya Lekkerkerker dalam mendokumentasikan sumber-sumber tertulis mengenai kedua pulau tersebut.
Karya lainnya tentang Bali adalah “Oudheidkundige kaart van Bali” (1925) yang disusunnya bersama L.C. Heyting, yakni sebuah peta arkeologi Bali yang mencatat situs-situs penting di pulau tersebut. Peta ini kemudian disalin oleh M. Kartodisastro pada Agustus 1925.
C. Lekkerkerker dan Balambangan
Mengenai Jawa, karya Lekkerkerker yang terpenting adalah sebuah artikel berjudul “Balambangan” yang dimuat dalam de Indische Gids (1923).
Dalam artikel ini, C. Lekkerkerker membahas sejarah dan budaya wilayah Balambangan (sekarang Banyuwangi dan beberapa kabupaten di sebelah baratnya), menyoroti keberlanjutan praktik Hindu dan unsur-unsur megalitik di wilayah tersebut.
Penulis memberikan analisis mendalam tentang sejarah wilayah Balambangan, termasuk aspek budaya, agama, dan arkeologi. Karyanya ini menjadi referensi penting bagi peneliti dan sejarawan yang mempelajari sejarah Banyuwangi dan sekitarnya.
Istilah Oesing
Dialah orang yang pada tahun 1923 mulai mengemukakan istilah Oesingers (dari kata “oesing” dan “sing”, sebuah kosakata lokal serapan dari bahasa Bali yang berarti “tidak”), sebagai penyebutan untuk orang Balambangan yang tersisa pasca Perang Bayu 1771-1773. Meskipun dalam hal ini masih bisa diperdebatkan kebenarannya.
Oesinger ini disebutnya sangat berbeda dengan Maduraneezen (orang Madura) dan Koelonneezen atau Wong Jawa Kulonan yang tinggal di wilayah ini.
Penutup
Celah di sana-sini dalam artikel karya C. Lekkerkerker yang kemudian dibukukan ini bukan berarti akan dan harus kita hakimi sebagai informasi yang keliru, namun harus dimaklumi karena mungkin saja saat itu sumber-sumber seperti Suma Oriental, Babad Sembar, Tedhak Dermayudan, Naskah Bujanggamanik, dan lain-lain tidak disebutkan olehnya dalam daftar Pustaka, atau memang karena kesengajaannya untuk menghindari sumber-sumber lokal.
Demikianlah Lekkerkerker dan beberapa poin penting yang dicatat dalam artikelnya. Masih banyak hal lainnya yang harus pembaca temukan sendiri untuk dikaji ulang guna melengkapinya atau bahkan dikritisi bukan untuk menghakimi namun demi menemukan simpul-simpul Sejarah Balambangan yang lebih mendekati kebenaran.